Showing posts with label My Thoughts. Show all posts
Showing posts with label My Thoughts. Show all posts

Thursday, October 24, 2013

KRL: Miniatur Kita

Jakarta. Sesak, penat, dan tak bersahabat. Mirip seperti kereta Commuter Line yang menjadi transportasi rutin saya menuju kampus. Penuh sesak dengan orang-orang yang mengejar mimpinya di tempat kerja masing-masing. Mereka harus tahan dalam kepadatan orang berpuluh-puluh menit untuk sampai ke tujuan. Sulit bernapas, sulit bergerak, berkeringat, setiap harinya! “Wah nggak tahan, mbak.. Tapi mau gimana lagi ya.. Namanya kerja, cari duit, tuntutan lah,” kata seorang ibu pada saya.

Saya beruntung karena tidak perlu seperti itu setiap hari. Saya lebih sering pergi ke Depok di pagi hari dan kembali ke Jakarta Kota di sore hari, sehingga kereta yang saya tumpangi tidak terlalu penuh sesak dengan penumpang lainnya. Suatu sore di gerbong kereta yang sepi, saya menikmati perjalanan saya yang ditemani sinar matahari yang akan segera tenggelam. Lumayan untuk mengistirahatkan penatnya pikiran seharian itu. Saya turun di stasiun Djuanda. Sesekali mengintip senja sambil berjalan keluar dari stasiun. Namun, suasana hati yang tenang itu sekejap hilang ketika melihat kerumunan orang berlari-larian menuju kereta seolah esok tidak ada lagi. Beberapa orang seperti tidak melihat saya dan menabrak saya begitu saja. “Kasihan sekali,” pikir saya. “Kalau saya saja tidak bisa mereka lihat. Bagaimana mereka bisa menikmati senja di Djuanda?”

Saya rasa fenomena itu bukan hanya menunjukkan suasana hati saya yang melankolis. Tapi juga ritme cepat masyarakat kota yang membuat masyarakat penat, lelah, dan tidak mampu lagi – atau tidak sempat – menikmati hal-hal kecil di sekitar mereka. Seperti yang digambarkan Michael Ende dalam novelnya yang berjudul Momo, masyarakat modern seolah-olah memiliki waktu yang semakin hari semakin sedikit namun menuntut mereka untuk kerja lebih dan lebih lagi. Tidak seperti masyarakat desa yang bisa memakai dan menikmati waktunya dengan leluasa, masyarakat kota butuh mengejar-mengejar waktu karena “time is money!”.

Beberapa langkah dari stasiun Djuanda, saya melihat baliho iklan Condominium mewah terpampang. Sepanjang jalan saya menuju ke rumah, iklan demi iklan menawarkan begitu banyak kesenangan dan kenyamanan hidup. Inilah “agen-agen” yang memasarkan tuntutan-tuntutan tak terlihat yang memaksa masyarakat kota untuk mengejar itu semua. Iklan-iklan itu menjadi mimpi tiap-tiap orang untuk diraih. Menjadi pengingat mereka akan alasan mereka rela berdesak-desakkan di dalam KRL dan melewati nikmatnya senja yang meregangkan penat. KRL seolah menjadi miniatur kota Jakarta yang padat, penat, namun menyimpan sejuta mimpi orang-orang di dalamnya.

Di dalam KRL kita juga bisa melihat wajah masyarakat kota Jakarta yang lainnya: tidak bersahabat. Sosiolog bernama Tonnies berkata, “Kota adalah tempat yang penuh dengan orang-orang yang tidak saling kenal”. George Simmel menambahkan. Tidak hanya tidak saling kenal, tapi juga tidak mau saling kenal. Ia berkata bahwa kota menyuguhi kita dengan gambar-gambar, impresi, sensasi, dan aktivitas dengan cepat. Kita tidak mampu meresponnya dengan sempurna. Karena itu supaya kita mampu bertahan, kita menarik diri dan menjadi impersonal. Itulah masyarakat kota. Ternyata wajah itulah yang juga saya temukan di dalam kereta. Jarang sekali saya menemukan ada orang yang saling berbicara satu sama lain. Bertegur sapa atau bahkan sekedar tersenyum pun tidak. Semuanya menunjukkan wajah yang tidak bersahabat atau wajah yang tidak mau diganggu karena ia sudah sibuk berbicara dengan teman setianya: gadget.

Julie Kagawa berkata, “Seiring bertumbuhnya kota dan teknologi menguasai dunia, kepercayaan dan imajinasi menghilang, begitu juga kita”. Masyarakat kota teralienasi dari orang-orang sekitarnya. Orang-orang di dalam kereta begitu sibuk berkomunikasi dengan gadget-nya masing-masing dan bukan dengan orang di dekatnya. Orang-orang berdekatan sekali secara fisik, namun sangat impersonal satu dengan yang lainnya.



Ironisnya, imaji-imaji ini tidak hanya terjadi di KRL tapi juga dimana-mana. Di jalan, di halte bus, di dalam busway dan di berbagai sudut-sudut kota Jakarta. Mungkin memang seperti itulah masyarakat kota. Mungkin memang itulah kita. Tapi kita adalah kita. Kita bisa menentukan siapa kita. Kota adalah sebagaimana warganya. Ketika banyak orang melewatkan senja, membenamkan senyum, membisukan sapaan, dan menambah penat kota Jakarta – kita bisa berbuat sebaliknya.


Wednesday, January 16, 2013

New Chapter


Terakhir kali saya menulis adalah tanggal 25 July 2012. Tak terasa sudah begitu lama saya tidak menulis. Baru sekarang, 16 Januari 2013, saya kembali menulis. Haha. Alasannya sama dengan alasan mengapa saya membuat blog ini untuk pertama kalinya. Karena ada seseorang yang mengingatkan saya bahwa menulis itu bukan pekerjaan yang sia-sia. Dan kita tidak akan pernah tahu apa yang dirasakan pembaca tulisan kita. Mungkin kita merasa tulisan kita biasa saja atau malah tidak penting. Tapi kalau seseorang di luar sana bisa mendapat hal baik dari tulisan kita, siapa tahu? Hehe.

Saat ini saya baru saja melewati 1 semester sebagai mahasiswa Sosiologi UI, sesuai dengan angan-angan saya. Melihat ke belakang mengenai betapa kerasnya saya menginginkan hal ini, rasanya wajar jika saya bertanya pada diri saya sendiri “gimana kuliahnya?” layaknya obrolan orang-orang pada umumnya terhadap mahasiswa baru. Saya sempat terkejut dan menjadi lesu mendengar jawaban dari “saya”. Saya pun menjadi sangat galau karena si “saya” malah mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tidak lagi ada “bener gak sih gw di sini? Gw ngapain sih di sini?” TIDAAK. Hehe.

Tapi tenang... Saya tidak menyesal dan tidak akan mundur. (Eaa). Memang benar saat orang lain bersemangat dalam kuliah perdananya, saya malah lesu. Mengapa? Ternyata saya datang dengan ekspektasi yang terlalu banyak dan mungkin kurang realistis. Di otak saya, UI itu begini begitu begini begitu. Ternyata jauh sekali dari dugaan saya. Mulai dari dosen, cara mengajar, teman, bahkan BEM nya pun tidak sesuai dengan dugaan saya. Saya pun menjadi kecewa dan hilang semangat.

SEBEL
Hal yang paling membuat saya kesal sebenarnya adalah masalah waktu. Untuk pertama kalinya saya melibatkan diri dalam kepanitiaan yang menurut saya sangat hebat visi dan misi nya. Menurut saya bahkan, kalau acara itu sukses, acara tersebut bisa tercatat dalam sejarah (lebay, tapi serius). Tapi seperti kebanyakan orang pemerintahan yang suka didemo, janji hanyalah janji, ide hanyalah ide. Bukan sepenuhnya salah panitia tentunya, tapi saya sangat menyayangkannya. Anyway, saya sangat semangat karena bisa diterima dalam kepanitiaan tersebut. Padahal saya pikir saya tidak mungkin bisa karena saya sama sekali tidak ada pengalaman. Saya pun berjanji akan bekerja sebaik mungkin, seperti biasanya saya bekerja.

Rapat perdana kami dimulai pukul 7 malam di tempat X. Pukul 7 kurang saya sudah berada di sana bersama dengan teman saya. Tapi tidak ada orang. Karena kami maba yang masih bodoh tapi unyu (haha), kami pikir kami salah tempat. Alhasil, kami coba mencari ketua kami. Setelah bertemu, saya bertanya padanya “Kak, X itu dimana sih? Di sana bukan? Kok gw ke sana ga ada orang yaa haha”. Lalu katanya, “Oh, iya bener kok di sana. Hehe.” Saya kembali bertanya “Hmm.. jam 7 kan ya kak rapatnya? Ato gw salah? Hahaha” daaannn dia menjawab, “Yahhh elaahh... Lu kayak ga tau FISIP aje. Kalo gw bilang jam 7, artinya lu dateng jam 8 aja hahaha”

... dan masih banyak hal lain yang menurut gw sangat disayangkan. Apalagi kalau katanya mahasiswa itu harus total dalam perjuangan. Pewaris peradaban! Gimana bisa menguasai peradaban kalo dari hal kecil soal waktu aja ga bisa dipercaya. Berantas korupsi! Dimana logikanya berantas korupsi dengan cara mengkorupsi waktu?

Hal lain yang membuat saya lesu adalah berbagai mata kuliah yang memuakkan. Gw mau sosiologiii wooii bukan politikk dan sebagainya. Tapi ya sudahlah ya... Saya anggap ini sebagai proses persiapan dan saya harus sabar.

SENANG BETUL HEHE
TAPI. Setelah dipikir-pikir, saya sangat tidak menyesal ada di sini sekarang. Toh tidak ada universitas yang sempurna, hehe. Saya bertemu dengan banyak sekali orang yang menarik, menyenangkan, aneh-aneh, dan segala macam orang yang bisa memberikan pelajaran baru pada saya. Saya ini Cina dan Kristen. Dari lahir-SMA lingkungannya itu melulu. Masuk dalam lingkungan mayoritas Non-Cina dan Muslim. Rasanya... Menyenangkan sekali hahaha.

ke-72 anak sosio 2012 :)

Lembang

Usai Gelas Maba

Orangtua saya jelas tidak memperbolehkan saya masuk UI karena takut saya didiskriminasi dan tidak bisa bergaul. Orang-orang sekitar saya meledek saya dengan guyonan yang kadang tidak lucu. Antara ketakutan dan kesombongan etnis itu beda tipis hehe. Semoga yang cina-cina tahu maksud saya, ya... Hehe.. Tapi nyatanya saya baik-baik saja, teman-teman saya juga baik-baik semua :)

Ketika di bangku semen (tempat anak sosio berkumpul) itu kami saling bertukar cerita, saya baru sadar beda sekali saya dan mereka. Teman-teman saya menceritakan bagaimana orangtua mereka sampai menangis terharu karena anaknya masuk UI. Ada teman saya yang menangis karena sebenarnya ia tidak ingin masuk UI, tapi karena ia diterima di UI dan ia merasa ada beban untuk membahagiakan orangtuanya dengan cara tersebut maka ia masuk UI. Sedangkan saya? Hehehe. Baca saja di tulisan saya sebelum-sebelumnya yaaa haha. Singkat kata, masuk sosiologi UI itu agak aib bagi orang-orang sekitar saya. Duitnya itu loohh dimanaa haha. Selain itu, kasarnya, UI bukan tempat orang Cina. Kalopun iya, ada juga di FE atau kedokteran. Aneh sekali.

Buat saya, persamaan cerita saya dan mereka satu. Kami yang sebenarnya bebas ini, dipenjarakan oleh penjara tak terlihat yang bernama masyarakat. Kenapa ada orang yang berjuang setengah mati masuk UI (bahkan sampai tidak peduli jurusan apa yang penting masuk UI) dan ada orang yang tidak mau masuk UI hanya karena jumlah etnisnya minoritas? Agak tidak logis alasannya. Memangnya UI sebagus itu? Atau, memangnya kita hanya bisa bergaul dengan sesama etnis saja? Benar kata Prof. Paulus Wirutomo, pikiran kita ini diganggu oleh kekuatan-kekuatan dari luar yaitu dari masyarakat dan budaya.

Anyway, saya sangat senang bisa bergaul dalam lingkungan baru yang membuka wawasan saya. Salah satu alasan saya masuk UI juga karena ingin lepas dari lingkungan sosial yang terlalu steril, masuk dalam lingkungan yang berbeda. Di sana saya menemukan banyak stereotip, prejudice dan teman-temannya yang tidak benar. Hal ini penting loh supaya kita menjadi manusia yang tidak sempit hehe.

Hal lain yang menarik buat saya adalah saya menemukan banyak orang yang sangat menikmati hidupnya dengan berjuang total dalam passion-nya masing-masing. Selama ini saya lebih sering bertemu dengan anak muda yang sekolah karena disuruh orang tua (maka amburadul sekolahnya), atau sekolah karena mau cari eksistensi diri (maka nilainya bagus-bagus), atau juga sekolah karena untuk bisa kerja dan dapet duit (paling banyak). Jarang saya menemukan pemuda yang berani bermimpi. Boro-boro. Punya mimpi saja tidak! Hehe. Ada beberapa analisa ngaco di otak saya yang menurut saya menarik untuk diteliti, tapi nanti saja hehehe.

KESIMPULAN (??)
Hmm... Kalau saya jadi Anda, saya akan sedikit malas membaca galau-galaunya si “saya” ini panjang lebar, hahaha. Jadi saya akan sedikit menyimpulkan saja di sini. Bahwa hidup itu kaya. Hidup itu terlalu dalam dan luas untuk dipelajari. Coba perhatikan hal-hal di sekelilingmu, sekecil apapun. Pikirkan dan refleksikan. Pada akhirnya itu akan membuat Anda menjadi orang yang lebih luas, tidak melulu melihat permasalahan diri sendiri. Sebelum menggerutu akan ini itu (seperti saya, hahaha), perhatikan orang di sekeliling Anda dan hal-hal lainnya. Renungkan dan syukuri kemegahan Si Empunya hidup kita. Jadikan hidupmu itu hidup! Hehe. SO, live your life. Because “every man dies, not every man really lives” (William Wallace). Are you alive? :)


Wednesday, January 25, 2012

"Jas Merah"

Salah satu syarat kelulusan sekolah gw (jika masih dapat dikatakan seperti itu) adalah menulis paper minimal 15-20 halaman. Paper ini bukan sembarang essay atau kumpulan essay yang main-main. Bukan hanya opini, tapi laporan penelitian dengan metode penelitian yang benar. Bisa dibilang skripsi ala anak SMA gitu deh...

Gw sedikit bosan dengan essay/paper sosial yang sudah-sudah. Seringkali terlalu teoritis, idealis, ngawang dan gak applicable. Buat peninggalan satu-satunya yang bakal dipajang di perpus, (angkatan pertama pula!) gw gak mau kasih yang keren-keren doang, tapi yang beneran bisa diterapkan dan bermanfaat (yang pada akhirnya gw setengah mati selesaikan tuh paper yang gak menarik T__T). So, gw pilih soal pengajaran sastra/apresiasi sastra di SMA.

Singkat cerita, isinya tentang apa sih apresiasi sastra di sekolah itu, udah jalan belom di sekolah, harus gmn supaya apresiasi sastra bisa terlaksana. Katanya supaya generasi muda "mampu menghargai khazanah budaya Indonesia" (Tujuan SK-KD BI). Tapi kok seringkali kita cm baca ringkasan cerita, apalin nama sastrawan, periodisasi dan blah blah blah lainnya yang akhirnya gak bawa kita baca sendiri karya sastra itu. Gw tau Siti Nurbaya itu karya sastra. So what? Gmn gw bisa hargain kalo gw gak baca karya sastra itu? Yah, inti paper gw begitulah.. Tapi gw gak lagi mau bahas paper gw (yang menyedihkan) disini.

Gara-gara tu paper, gw jadi tertarik buat mulai baca-baca karya sastra. Daridulu gw baca cerpen sastra juga, tapi bukan karya sastra yang terkenal. Karena dorongan sodara jg, jadinya gw baca salah satu karya sastra paling agung yang Indonesia punya: "Bumi Manusia", karya Pramodya Ananta Toer. Sodara gw blg Om Pram itu hebat bgt, gak heran berkali-kali masuk nominasi Nobel. "Dia bisa bikin gw yang gak nasionalis ini jadi menggebu-gebu dengan nasionalisme!". Gw pernah intip beberapa halaman buku itu, tapi karena teriakan buku-buku lain yang cemburu, buku tebel om Pram pun gw tinggalin dulu.

In the end, gw baca buku Pram. Gw gak se-addicted sodara gw itu. Gak semenggebu-menggebu itu juga. Tapi gw berbinar-binar baca bukunya. Ceritanya, alurnya, karakternya, bikin merinding. Keren. Setelah selesai gw jg masih aja tenggelam dalam buku itu. Banyak pertanyaan yang muncul, banyak pertentangan yang gw pikirkan.

Beberapa hari setelahnya gw baca "Madre", dihitung sebagai karya sastra juga (jaman modern), karya Dee. Gw bisa menikmati membacanya. Tapi setelah selesai, ya selesai. Ceritanya memang lumayan "inovatif" dan banyak sekali cerita-cerita modern yang segar, baru. Tapi kesan yang ditinggalkan beda bgt. Terus gw mikir apa yang bedain karya sastra jaman jebot itu dengan karya sastra jaman sekarang? Banyak bgt dan beda bgt pastinya!! Jauh! Tapi satu hal yang mnurut gw paling mahal: sejarah.

"Bumi Manusia" jelas mengambil satu cuplikan kehidupan yang berbeda masa jauhnya dengan kita sekarang. Permasalahan yang diangkat dalam, luas, dan bermakna. Tentang perlawanan pada feodalisme dan kolonialisme. Tentang seorang Jawa yang mengenyam pendidikan Eropa dan sadar bangsanya terpuruk begitu rendah seperti cacing. Tentang ketidakadilan, devide et impera, tentang cinta. Ceritanya begitu agung, memperkenalkan satu dunia yang tidak pernah kita tinggali, membuat kita lebih mengerti akan sejarah yang membawa kita kepada hari ini. Sama halnya dengan karya sastra yang lain seperti "Ronggeng Dukuh Paruk" yang juga menarik kita memasuki mesin waktu untuk melihat sejarah. Mereka semua mampu mengabadikan kehidupan mereka saat itu dengan tulisannya. Mereka mengabadikan sejarah melalui tulisannya! Sayangnya cari buku tetralogi Pram di Gramed susahnya minta ampun, dimana-mana gak ada. Sejarah itu mahal bgt, tapi apa iya saking mahalnya org gak mau liat barang sedetikpun?


Bukannya mau bersendu-sendu ria mengenang masa-masa lalu, menertawakan atau menangisi keironisan sejarah. Tapi kata Om Hegel, sejarah terbesar dalam hidup manusia adalah kita tidak pernah mau belajar dari sejarah, kurang lebih begitu. Sejarah itu mahal harganya. Sejarah itu harus dipelihara. Karena itu, benar jg kata Sukarno. Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah!

Monday, October 17, 2011

Hamster's Wheel

Namanya manusia itu rindu eksistensi.

Oke, jangan pusing dulu bacanya. Simply, manusia pengen keliatan.

Emang bener manusia adalah makhluk yang keliatan, yg bereksistensi, yg ada. Tapi ironisnya, manusia sering kehilangan eksistensinya. Kehilangan makna keberadaannya.

Contoh simpel aja kek penjahat yang ada di film "Megamind". Megamind menemukan eksistensinya waktu Metroman ada untuk menangkap dia. Sekalipun berulangkali kalah dna masuk penjara, hidupnya terus berapi-api untuk membunuh Metroman dan menguasai kota Metrocity.

Tapi setelah dia berhasil membunuh metroman, tidak ada maknanya lagi jadi penjahat. Megamind kehilangan eksistensinya sampai akhirnya dia bikin pahlawan untuk melawan dirinya sendiri!

Atau seperti film "Memento". Tokohnya juga hidup dalam dunianya sendiri setelah dia gak bisa lagi menemukan arti keberadaan (hidup) tanpa istrinya.

Yang paling tragis adalah ketika manusia tidak sadar ia berusaha setengah mati mencari keberadaannya yang hilang. Sampai akhirnya dia bener-bener hilang, tenggelam dalam dunianaya sendiri. Dirinya lelah, depresi, tapi tidak sanggup hidup tanpa dunia yang telah ia ciptakan.

Mau gak mau, suka gak suka, kita harus kembali pada design asli kita. Kita harus ngerti makna keberadaan kita. Dimana kita mampu menemukan eksistensi kita yang sesungguhnya? Yang tahu hanyalah yang mendesign kita.

Pertanyaannya, apakah manusia mau menerimanya?

Thursday, August 4, 2011

Dilematis Perkembangan Masyarakat dalam Masyarakat Tradisional

Perkembangan masyarakat ditentukan oleh 2 faktor besar, yaitu pendidikan dan perekonomian yang baik. Dua hal ini harus dimiliki oleh masyarakat. Dengan pendidikan yang berkualitas, masyarakat lebih terbuka wawasannya akan keadaan sekitar.  Masyarakat menjadi semakin mampu melihat apa yang salah dan memperbaikinya, menganalisis dampak setiap inovasi terbaru, melihat potensi dan ancaman, dan sebagainya. Pendidikan yang baik akan berpengaruh kepada banyak aspek yang membantu suatu masyarakat untuk berkembang. Sedangkan dengan perekonomian yang baik, taraf hidup masyarakat lebih baik, kesejahteraan, dan kesehatan lebih baik. Melalui dua hal ini, masyarakat yang berkembang juga mampu mengokohkan stabilitas suatu negara, mendukung pembangunan negara. 

Di Indonesia, masih banyak masyarakat tradisional yang tidak memiliki pendidikan yang memadai. Tidak usah berbicara mengenai pendidikan yang berkualitas, sekolah pun terkadang tidak dimiliki suatu daerah. Dalam hal perekonomian, masyarakat tradisional memiliki perekonomian yang sangat sederhana dan sangat sulit serta memakan waktu lama untuk mengembangkan keadaan mereka. Bahkan ada banyak kelompok masyarakat Indonesia yang mengalami kemiskinan dahsyat. Rendahnya pendidikan, rendahnya kesehatan, tingginya kemiskinan dan kriminalitas, lemahnya perekonomian. Hal-hal ini tidak mendukung suatu negara untuk berkembang, dan dapat menjadi gangguan bagi stabilitas negara. Maka kita harus berbuat sesuatu untuk menanggulanginya. 

Namun setiap kebijakan sosial yang dibuat pasti memiliki dampak tersendiri. Perkiraan akan perubahan sosial yang akan terjadi menjadi satu hal yang harus dipikirkan. Masalah pertama yang kami pikirkan disini adalah budaya atau nilai-nilai tradisional dalam masyarakat tradisional yang terancam hilang jika mereka bersentuhan dengan program-program pengembangan masyarakat. Masalah ini bahkan disadari juga oleh masyarakat tradisional sendiri. Contohnya desa Wae Rebo, Flores. Seorang warga berkata, “ada semacam dilematis dalam desa kami untuk menerima teknologi. Kami takut tradisi dan budaya kami akan hilang” (Majalah Tempo, 11-17 Juli 2011). Desa ini masih mempertahankan warisan budaya seperti mbaru niang, rumah tradisional yang hanya ada 7 buah di sana. Mereka tidak ingin menambah ataupun menghilangkan mbaru niang ini karena mitos yang dipercaya mereka. Yang menarik adalah, seorang arsitek dari Universitas Indonesia sengaja datang kesana untuk mempelajari arsitektur mbaru niang ini dan ternyata rumah tradisional ini memiliki teknik arsitektur yang tinggi. Banyak sekali turis asing yang sengaja datang ke Wae Rebo untuk melihat kebudayaan mereka dan tinggal di mbaru niang ini. Sangat sayang jika desa ini kehilangan budayanya, bukan? Jika infrastruktur, pendidikan, perdagangan, dan fasilitas lainnya diterapkan dalam masyarakat tradisional seperti ini, mungkin saja Indonesia bukan lagi menjadi negara yang kaya budaya karena perubahan sosial budaya yang terjadi.



Namun jika kita membiarkan mereka “tertinggal” begitu saja, bukankah kita menganggap mereka seperti “objek”? Misalnya saja kita membiarkan masyarakat Irian Jaya tanpa baju, hanya dengan pakaian tradisionalnya hanya karena tidak ingin kehilangan pemandangan kebudayaan tersebut. Tanpa memberikan mereka prasarana yang secukupnya, bukankah kita merebut hak mereka untuk mendapat kesempatan yang sama dengan masyarakat modern? 

Apa yang kami pikirkan adalah, pemerintah tetap harus memenuhi unsur dasar yang diperlukan. Pendidikan dan perekonomian. Pendidikan disini bukan hanya mendirikan sekolah lalu membiarkannya begitu saja. Suatu program sosial dalam masyarakat tidak boleh hanya sekadar ditanamkan lalu ditinggalkan, tapi harus terus dijaga, diperhatikan. Perekonomian cukup untuk mampu meningkatkan taraf hidup yang selayaknya bagi masyarakat desa. Selebihnya, tinggal bagaimana masyarakat itu berkembang.

Tidak hanya sampai disitu saja. Ada masalah lain yang muncul ketika kita memikirkan berpuluh-puluh tahun kemudian. Dengan pendidikan yang baik, masyarakat pasti berkembang. Tidak dapat dipungkiri masyarakat tradisional itu juga kemungkinan besar akan berkembang menjadi masyarakat modern. Kasarnya, desa akan berubah menjadi kota besar. Bayangkan saja desa-desa dengan budaya kentalnya berubah menjadi kota yang padat dan tidak peduli budaya seperti Jakarta. Apakah ini namanya siklus yang tidak ada ujung? Tidak. Pembangunan negara dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri seharusnya tidak hanya memikirkan perkembangan dan perkembangan saja. Dari pendidikan yang ditanamkan pada masyarakat tradisional, perlu adanya pendidikan yang berbudaya. Pendidikan yang mengajarkan mereka untuk tetap menghargai nilai-nilai budaya. Masalahnya adalah masyarakat modern sekarang saat dulu bersentuhan dengan teknologi, pendidikan formal, kemajuan, tidak diajarkan untuk juga mempertahankan budaya yang tinggi, yang baik. Hidup modern dan berbudaya bukan dua hal yang bertentangan. Berbudaya bukan berarti kolot, justru menjadi orang yang bijak dan melimpah.

Diambil dari tugas sosiologi – Joseph dan Heidy (4/8/11)

Monday, July 4, 2011

Hilde Janssen: Pemerintah Indonesia Menganggapnya Aib

Artikel berjudul di atas berkisah tentang penelusuran demi penelusuran yang dilakukan seorang jurnalis tentang kasus jugun ianfu Indonesia. Ternyata banyak sekali perempuan-perempuan Indonesia yang adalah eks jugun ianfu, budak seks para tentara jepang. Mereka mengaku mereka mengalami banyak sekali penyiksaan dan penderitaan menjadi budak seks paksa. Di artikel ini juga disebutkan kasus para wanita Indonesia ini diabaikan begitu saja dan tidak ada penepatan janji adanya kompensasi uang dari berbagai organisasi.

Pertama-tama saya akan masuk dalam konteks di mana masa jugun ianfu mulai “bekerja.” Di sana – terutama dalam kasus ini – kita dapat melihat dengan jelas adanya stratifikasi sosial berupa kaum yang berkuasa dan kaum dikuasai. Kaum yang berkuasa adalah penjajah (Jepang) yang menguasai rakyat terjajah (Indonesia). Saat penganiayaan ini berlangsung, pasti banyak rakyat Indonesia yang mengetahui hal ini. Namun penganiayaan terus berlangsung sampai sekitar tahun 1945. Ini menunjukkan bahwa rakyat Indonesia saat itu tidak mampu menghadapi penguasa-penguasa Jepang yang menjajah dan menguasai mereka. Pemberontakkan sangat mungkin terjadi, namun tetap saja rakyat Indonesia tidak berdaya. 

Menurut pandangan Weber, ada 3 dimensi stratifikasi sosial: ekonomi, kehormatan, dan kekuasaan. Dimensi manakah yang relevan dengan kasus ini? Secara ekonomi, Indonesia saat itu memiliki banyak sekali kekayaan sehingga Jepang menjajah Indonesia. Dalam hal ini dimensi ekonomi tidak berlaku. Demikian juga dengan dimensi kehormatan, Jepang di mata bangsa Indonesia saat itu tentulah bukan orang-orang yang terhormat melainkan orang-orang biadab. Dimensi kekuasaan-lah yang dimiliki Jepang dengan sangat jelas. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, Jepang mampu menekan, menjajah, dan menguasai Indonesia.

Poin terakhir yang saya tulis adalah menurut saya, kasus ini tidak mendapat tanggapan yang baik dari pemerintah bukan karena pemerintah menganggap kasus ini sebagai suatu aib. Aib apa? Sudah jelas bahwa itu merupakan aib biadabnya Jepang. Para wanita Indonesia tidak tahu apa-apa selain dipaksa menjadi korban budak seks serdadu Jepang pada masa itu. Maka mengapa pemerintah Indonesia tidak mau mengangkat permasalahan ini? Salah satu faktor terkuat adalah karena Jepang merupakan negara kedua yang memberikan bantuan-bantuan, donor dana, hibah, ataupun pinjaman terbesar pada Indonesia. Kemungkinan besar pemerintah Indonesia takut dan lebih memilih untuk berada dalam posisi aman, tidak menentang Jepang yang salah. Di sini muncul lagi kesan antara kaum yang berkuasa dan kaum yang dikuasai. Secara tidak langsung, Indonesia sudah terkontrol oleh Jepang karena kebergantungan ekonomi yang tinggi pada Jepang.

Hilde Janssen: Pemerintah Indonesia Menganggapnya Aib


Artikel berjudul di atas berkisah tentang penelusuran demi penelusuran yang dilakukan seorang jurnalis tentang kasus jugun ianfu Indonesia. Ternyata banyak sekali perempuan-perempuan Indonesia yang adalah eks jugun ianfu, budak seks para tentara jepang. Mereka mengaku mereka mengalami banyak sekali penyiksaan dan penderitaan menjadi budak seks paksa. Di artikel ini juga disebutkan kasus para wanita Indonesia ini diabaikan begitu saja dan tidak ada penepatan janji adanya kompensasi uang dari berbagai organisasi.

Pertama-tama saya akan masuk dalam konteks di mana masa jugun ianfu mulai “bekerja.” Di sana – terutama dalam kasus ini – kita dapat melihat dengan jelas adanya stratifikasi sosial berupa kaum yang berkuasa dan kaum dikuasai. Kaum yang berkuasa adalah penjajah (Jepang) yang menguasai rakyat terjajah (Indonesia). Saat penganiayaan ini berlangsung, pasti banyak rakyat Indonesia yang mengetahui hal ini. Namun penganiayaan terus berlangsung sampai sekitar tahun 1945. Ini menunjukkan bahwa rakyat Indonesia saat itu tidak mampu menghadapi penguasa-penguasa Jepang yang menjajah dan menguasai mereka. Pemberontakkan sangat mungkin terjadi, namun tetap saja rakyat Indonesia tidak berdaya. 

Menurut pandangan Weber, ada 3 dimensi stratifikasi sosial: ekonomi, kehormatan, dan kekuasaan. Dimensi manakah yang relevan dengan kasus ini? Secara ekonomi, Indonesia saat itu memiliki banyak sekali kekayaan sehingga Jepang menjajah Indonesia. Dalam hal ini dimensi ekonomi tidak berlaku. Demikian juga dengan dimensi kehormatan, Jepang di mata bangsa Indonesia saat itu tentulah bukan orang-orang yang terhormat melainkan orang-orang biadab. Dimensi kekuasaan-lah yang dimiliki Jepang dengan sangat jelas. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, Jepang mampu menekan, menjajah, dan menguasai Indonesia.

Poin terakhir yang saya tulis adalah menurut saya, kasus ini tidak mendapat tanggapan yang baik dari pemerintah bukan karena pemerintah menganggap kasus ini sebagai suatu aib. Aib apa? Sudah jelas bahwa itu merupakan aib biadabnya Jepang. Para wanita Indonesia tidak tahu apa-apa selain dipaksa menjadi korban budak seks serdadu Jepang pada masa itu. Maka mengapa pemerintah Indonesia tidak mau mengangkat permasalahan ini? Salah satu faktor terkuat adalah karena Jepang merupakan negara kedua yang memberikan bantuan-bantuan, donor dana, hibah, ataupun pinjaman terbesar pada Indonesia. Kemungkinan besar pemerintah Indonesia takut dan lebih memilih untuk berada dalam posisi aman, tidak menentang Jepang yang salah. Di sini muncul lagi kesan antara kaum yang berkuasa dan kaum yang dikuasai. Secara tidak langsung, Indonesia sudah terkontrol oleh Jepang karena kebergantungan ekonomi yang tinggi pada Jepang.