Monday, November 14, 2011

Forgotten#14

“Kau bawa aku kemana?” tanya Lisa
“Ke tempat dimana kamu bisa tahu siapa dirimu sebenarnya,” jawab Susan seraya tertawa licik

Lisa yang putus asa itu setuju mengikut tante Susan yang tidak pernah ia kenal. Sosok misterius yang terus memanggilnya “Fanny” dan terus membuntutinya.
Aku tidak peduli apa yang akan terjadi. Aku sudah putus asa. Semuanya pasti jijik padaku, termasuk diriku sendiri.Untuk apa lagi aku pedulikan hidup ini.

Susan mengendarai mobil dengan sangat cepat. Sudah 3 jam berlalu. Kemana Lisa dibawa? Lisa tidak dapat melihat apa-apa, sesuai perjanjian mata Lisa ditutup sampai mereka tiba di tempat tujuan. Lisa merasa ngeri, sekelilingnya gelap, hanya ada tawa licik tante Susan dan hawa tidak enak dalam mobil lusuh itu.

Mobil berhenti. Hati Lisa berdegup kencang. Sudah sampaikah? Tante Susan turun dari mobil. Dengan kasar dia membuka pintu mobil di sisi Lisa lalu menarik Lisa keluar. Susan tertawa penuh kengerian. Mereka berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. Kedua tangan Susan meremas pundak Lisa dengan kencang.

“Sebentar lagi kamu terbangun dari mimpimu, sayang. Sebentar lagi, kamu kembali ke pangkuanku. Sebentar lagi, kita akan bermain bersama-sama lagi, Fanny” bisik Susan.

Susan lalu melepaskan ikatan kain yang menutup mata Lisa. Perlahan-lahan Lisa membuka matanya. Takut, tapi tidak sabar. Lutut Lisa lemas,seluruh bulu kuduknya berdiri, hatinya seperti dipukul bongkahan kayu besar.

“Ini.. Ini mimpi?”
Susan tertawa terbahak-bahak.
“Setengah mimpi, sayangku. Kamu belum sepenuhnya bangun.”
“Yang benar saja... Ini..”

Lisa tidak sanggup untuk percaya. Lisa melihat ke sekelilingnya. Perkebunan hijau terbentang di hadapannya. Pepohonan terlihat sangat jelas tanpa dihalangi bangunan-bangunan tinggi dan besar. Langit, terlihat sangat luas dan tidak terbatas. Ini.. Langit tempat Lisa dan Yume terbang di mimpinya! Lisa kembali melihat apa yang ada di depannya. Sebuah rumah besar yang persis sama ada dalam mimpinya bersama Yume.

“Yume.. Ini..” Lisa mencoba menata pikirannya. Tidak hanya Susan yang ada dalam mimpinya dan menjadi nyata. Sawah, pepohonan, rumah-rumah penduduk, rumah besar ini, dan seluruh desa ini benar-benar nyata.
“Hahaha! Ayolah, aku sudah tidak sabar melihat reaksimu setelah masuk ke dalam rumah ini, Fanny”

Lisa menapakkan kakinya pada tangga kecil kayu di depan rumah itu. Satu per satu. Lisa memerhatikan rumah yang sangat kotor itu. Berdebu, lusuh, dan kayunya sudah reyot. Namun Lisa merasakan ada sesuatu yang aneh. Familiar. Apakah ini karena ia pernah memimpikannya? Jantungnya berdegup semakin cepat. Lisa masuk ke dalamnya dan semakin tidak percaya. Dia sadar ini adalah ruang tamu tempat Lisa melihat Fanny dan Susan dalam mimpinya. Lisa teringat mimpi yang menyeramkan itu. Lisa teringat bagaimana Susan memperlihatkan video pembunuhannya pada Fanny, bocah gendut dan kasar itu. Lisa kebingungan, dia ingin lari tapi tidak bisa lari. Ia tidak tahu dia dimana sekarang. Ini bukan Jakarta dan sepanjang jalan matanya tertutup! Lisa merasa sangat bodoh mau mengikuti tante Susan. Bagaimana kalu tante Susan benar-benar seperti apa yang dimimpikannya? Bagaimana jika ia malah dibunuh di sini? Tapi untuk apa? Lisa benar-benar bingung dan takut. Perasaannya tak keruan.

“Hahaha! Ada apa dengan nafasmu sayang? Kamu tidak perlu berkeringat dingin seperti itu. Kamu tidak perlu takut. Kamu sudah bertahun-tahun ada di sini,” kata Susan sembari menatap tajam Lisa.
“Apa? Maksudnya?”
“Hahaha! Keras sekali kepalamu hah!” Susan menjambak rambut Lisa dengan penuh kemarahan. Lisa berteriak kaget dan kesakitan.
“Kamu tidak ingat juga, hah?!”

“oh, Fanny sayang.. Tidakkah kamu mengerti betapa aku merindukanmu?” Susan berubah menjadi sangat lembut namun mencekam.
“Tidakkah kamu ingat betapa menyenangkannya kita bermain-main bersama dulu di sini? Kamu tidak ingat dapur itu? Di sana aku memasak banyak makanan untukmu! Ah, coba kemari. Lihat! Itu kamar kita dulu. Kamu tidak ingat nyanyian tidurku untukmu?”
“Kamu.. Apa yang kamu bicarakan? Siapa kamu?”
“Ah, Fanny.. Aku sedih sekali”
“Aku bukan Fanny!! Siapa Fanny? Orang gila!”

Susan melepas cengkramannya dan tertawa terbahak-bahak. Lisa sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Sini kamu, setan kecil!!” Susan menjambak rambut Lisa dengan sangat keras. Menyeretnya ke tangga dan menuju satu ruangan. Susan melemparkannya ke dalam ruangan yang besar dan kotor itu. Lisa terjatuh dan ia sadar, ia tidak seorang diri. Lisa menengadah dan melihat orangtuanya disekap!

“Mama! Papa! Apa.. yang terjadi?”
Kepala Lisa pening luar biasa. Isak tangis mulai keluar dari matanya. Tidak pernah ia merasa setakut ini. Ia ingin menghampiri orangtuanya yang diikat di satu kursi, tapi ia tidak yakin mereka nyata.

“Aku sudah gila?” Lisa menangis dan menangis. Pening di kepalanya semakin menjadi-jadi. Susan tertawa semakin lama semakin keras.

“Lisa..” mama memanggil Lisa dengan lirih dan penuh kesakitan.

“Kamu tidak ingat kejadian ini, Fanny?” tanya Susan
“Kamu tidak ingat kamar ini? Kamu masih juga tidak ingat puncak drama kita dahulu?”

“Kamu. Kita. Adalah pembunuh, Fanny. Kamu, kita. Tinggal di sini dan saling menyayangi, membenci semua pengganggu yang menyebalkan di dunia seperti kedua orang ini! Mereka kejam! Mereka menyiksaku, menggangguku. Kamu tidak tega, bukan melihat aku disiksa? Kamu menyayangi aku, kan? Kamu berjanji akan selalu ada bersamaku, bukan?”

Lisa gemetar, nafasnya tidak teratur. Lisa tidak sanggup menahan rasa peningnya. Kepalanya seakan mau pecah. Kepalanya seperti memutarkan satu rekaman film yang tidak pernah ia lihat. Begitu cepat, sekilas demi sekilas. Kata-kata Susan seperti pisau yang menyayat-nyayat kepala dan hatinya.

“Diaaamm!!” Lisa berteriak. Mama dan Papa semakin keras menangis.
“Lisa, jangan dengarkan Susan. Kamu anak mama papa, kami menyayangimu”
“Bohong!! Mereka tidak akan menyembunyikan semua ini darimu kan? Mereka egois, Fanny!! Mereka hanya ingin memisahkan kita! Memanfaatkanmu!” teriak Susan.

“Apa? Apa yang disembunyikan? Jadi, itu semua benar, ma, pa?”
Mama papa hanya menggeleng lemas, tapi tidak berkata apa-apa.
“Siapa Fanny? Siapa Lisa?”
“Lisa..” Papa tidak menjawab.

“Hahahaha!! Kamu lihat sendiri, Fanny! Mereka pembohong besar! Kamu bukan Lisa, kamu adalah Fanny! Theofanny Handoko. Anak tunggal dari keluarga Handoko, pemilik tanah dari seluruh perkebunan di sini. Sejak kecil aku yang menjagamu, menyayangimu. Mereka hanya sibuk dengan urusannya sendiri!”
“Theofanny Handoko?”
“Ya, benar sekali. Kamu mirip sekali dengan aku. Pembunuh kecil berdarah dingin. Kamu suka mengkuliti binatang, bukan? Itu kebiasaanmu sejak kecil. Aku yang mengajarkannya padamu, Fanny. Aku! Hahaha! Jadi.. Kamu tidak perlu lagi bingung terhadap siapa dirimu, Fanny. Kamu bukan Lisa, gadis jelita yang suka melukis dan anggun itu. Kamu adalah Fanny, gadis penuh kegelapan dan kejam seperti aku. Jadilah dirimu sendiri, Fanny. Kamu akan terus tersiksa selama kamu menyesali dirimu sendiri dan meratap pada Tuhanmu itu!”

Lisa terdiam. Lisa berhenti menangis. Pikirannya kosong, hatinya kosong.
“Aku.. Tidak mau..”
“Kamu tidak mau? Tuhan tidak mau kamu!! Tidak ada yang mau kamu!! Hahaha! Kecuali aku, sayang. Ada aku di sini..”
“Fanny..”
“Ya, kamu adalah Fanny. Jadilah Fanny”

Susan menyodorkan kapak besar ke tangan Lisa yang tak bernyawa itu. Lisa tidak menolak. Lisa menggenggamnya dan memerhatikannya. Lisa terus meracau dan kehilangan arah. Lisa tidak tahu dirinya berada dimana. Ia tidak tahu dirinya siapa. Lisa hanya merasa dirinya sudah gila dan tidak tahu harus percaya mana. Susan terbahak-bahak penuh kemenangan.

“Akhirnya, Fanny! Kamu bangun juga! Cepat, lakukan bagian yang belum kita mainkan dulu! Hahaha!” Tidak ada yang tahu kalau di luar ruangan Otto terus mendengarkan percakapan mereka dan menunggu polisi datang. Otto terus menahan nafas dan suaranya yang sulit untuk tidak terkejut. Otto tidak menyangka wanita bajingan yang merusak Fanny itu datang kembali. Dia tidak menyangka, gadis yang selalu ia rindukan itu ada di sini dan dalam momen seperti ini. Dia baru tahu inilah momen terakhir yang membuat Fanny dan keluarga Handoko menghilang setelah Susan dijebloskan dalam penjara. Otto tidak sabar untuk masuk dan membubarkan semuanya, tapi ia tidak mampu seorang diri saja. Oh, Tuhan, tolong kami.

“Ayo, Fanny. Jangan sampai kebodohanmu terulang. Jangan segan-segan menghempaskan kapak itu pada kepala mereka berdua. Jangan lagi kamu meninggalkan aku seorang diri”

Lisa menangis. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Susan menyanyikan lagu yang dinyanyikannya sebelum Lisa tidur dulu.  Lagu mencekam itu membangkitkan keputusasaan yang semakin mendalam dalam hati Lisa. Lisa teringat kejadian mengerikan yang dilakukannya. Lisa teringat kematian Sella karenanya. Lisa marah, ia tidak mengerti kenapa dia harus dilahirkan menjadi pembunuh. Lisa berserah pada takdir.

Lisa menjerit keras lalu mengangkat kapak besar itu tinggi-tinggi. Tapi sesaat sebelum kapak itu menghujam orangtuanya, Lisa terpaku. Lisa terpaku menatap cermin kotor di belakang kursi orangtuanya. Di sana ia menatap dirinya. Sekejap, sosoknya berubah menjadi sosok gadis kecil yang gemuk berambut pendek, dengan mata terbelalak dan sorotan yang mengerikan. Itulah Fanny, itulah Lisa. Itulah dia, 3 tahun yang lalu. Dengan kapak yang sama, di kamar yang sama, dan kejadian yang sama. Kali ini Lisa baru ingat, saat itu ia tidak jadi membunuh orangtuanya. Saat itu ia terjun dari jendela untuk bunuh diri. Saat itu ia hanya ingin melawan takdir dengan satu-satunya cara yang ia tahu. Lebih baik mati daripada harus hidup sebagai pembunuh. Lebih baik mati, daripada hidup terus menyakiti hati Tuhan. Lisa tidak percaya takdir membuatnya menjadi pembunuh, ia percaya Tuhan menciptakannya baik adanya, ia tidak sanggup menerima dirinya. Itulah sebabnya ia lompat dari atas, dan membuang Fanny, membunuh Fanny dalam dirinya. Kapak itu ia hujamkan ke lantai lalu ia duduk lemas di bawah kaki ayah ibunya.

“Apa yang kamu lakukan! Bangun Fanny!! Bunuh mereka!”
“Angkat tangan!!” Otto masuk bersama dengan para polisi.
“Apa-apaan ini! Lepaskan aku! Fanny, kembalilah padaku! Lihat aku, brengsek kecil!”
Polisi melepaskan ikatan tali mama dan papa.
“Otto.. Terimakasih, nak. Bagaimana kamu bisa menemukan kami di sini?”
Otto hanya terdiam, mengangguk pelan dan menatap Fanny. Saat ini ia sangat mengkhawatirkan Fanny. Perasaannya campur aduk. Ia tidak lagi peduli apakah Fanny mengingatnya atau tidak. Otto takut kehilangan Fanny lagi.

“Fanny..”
Fanny menoleh pada Otto yang duduk di sebelahnya. Lama sekali ia menatap lekat-lekat muka Otto. Perlahan ia menyentuh muka Otto, merabanya, lalu tangisnya pecah sembari memeluk Otto erat-erat.
“Kuatlah, Fanny. Kamu tidak apa-apa. Kami di sini.”

*******
Saat aku terbangun di pagi hari, aku masih merasa sangat lelah. Pikiranku masih melayang-layang. Entah memikirkan apa. Aku terlalu rapuh untuk memikirkan sesuatu. Aku berdiri lalu membuka jendela kamar. Kicauan burung terdengar sangat jelas. Segarnya udara pagi memanjakan aku yang masih lemah.

Segala sesuatu terjadi sangat dahsyat. Dalam beberapa hal aku masih belum mengerti. Namun aku tidak sanggup untuk mengkhawatirkan itu lagi. Aku tahu sebentar lagi aku akan menemukan jawabannya.

“Fanny..” mama mengetuk pintu.

Ah, nama itu masih menyakiti hatiku. Membawaku pada kelamnya masa lalu.

Aku kembali duduk di kasurku. Mama masuk dan menyuguhkanku teh hangat. Wajah mama yang penuh cinta juga menyakiti hatiku. Mengapa aku sempat ingin... ah, aku benar-benar tidak sanggup menerima apa yang terlah kuperbuat. Aku hanya terdiam. Raut muka mama berubah menjadi sedikit sedih. Aku bisa merasakan mama menahan tangis. Mungkin mama merasakan penarikan diriku terhadapnya. Maaf ma, aku senang mama di sini. Aku hanya merasa tidak pantas.

“Hey.. Fanny sudah bangun ya?” Otto masuk ke kamar dengan penuh senyuman yang bersemangat. Aku masih belum terbiasa dengannya. Sudah lama sekali kami tidak bertemu.

“Ah, Otto.. Sini, kamu temani Fanny. Tante mau ngobrol sama papa kamu dulu, deh. Kayaknya Fanny juga mau ngobrol sama kamu”

Aku tahu, mama tahu Otto dapat lebih mendekatiku.

Otto duduk di samping tempat tidurku. Aku menatapnya sekilas. Dia sudah sangat berubah. Dia semakin tampan. Tubuhnya yang dulu kecil dan kerempeng sekarang menjadi tinggi, besar, dan gagah. Sekarang dia sudah seperti laki-laki dewasa saja. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku. Lama sekali dia menatapku tanpa berbicara apa-apa. Aku tidak tahu harus bagaimana bersikap.

“Kamu makin cantik, ya..”

Kurang ajar. Dasar Otto bodoh. Mukaku pasti langsung merah.

“Dasar Fanny bodooohhhh!! Aku kangen banget sama kamuuu!!” Otto tiba-tiba mengacak-acak rambutku. Otto tidak berubah. Selalu saja dapat membuatku tertawa dan merasa nyaman dan ringan. Seperti dulu, Otto masih sangat bawel sedangkan aku hanya berbicara sedikit-sedikit saja. Kami berbicara banyak hal. Kami bertukar cerita mengenai dunia kami masing-masing. Otto bercerita tentang sekolah di desa ini sedangkan aku bercerita tentang kehidupan di Jakarta. Aku mulai mendapatkan tenaga lagi untuk menghadapi hari ini. Aku bahkan mempunyai tenaga untuk bertanya tentang kejadian besar kemarin padanya.

“Otto.. Apa yang terjadi?”
Otto menunduk kebawah, berpikir sejenak. Lalu ia mulai bercerita panjang lebar, aku dengan sabar mendengarkan.

Memang benar, aku adalah Fanny. Susan itu pembantu rumah tanggaku. Sewaktu kecil, aku lebih sering bersama dengannya daripada bersama dengan orangtuaku. Susan dengan kegilaannya itu entah mengapa berusaha menjadikan aku seperti dirinya. Dia sangat menyayangiku, namun tidak jarang menyiksa, memukul, dan menghina aku. Susan sudah menyiksa dan membunuh banyak orang. Ia menceritakannya padaku. Aku pun terbiasa dengan semua itu dan menikmatinya. Semua orang tahu ada yang salah denganku, dengan hanya melihat aku saja. Tapi Otto mengetuk hati kecilku. Memasukkan Injil kedalamnya lalu mengubahku perlahan-lahan. Namun aku tidak sanggup melihat pengampunan Tuhan lebih daripada semua kejijikan diriku. Sampai puncaknya, aku tidak sanggup menerima diriku yang mau membunuh orangtuaku sendiri. Aku lompat dari jendela, bunuh diri, tapi aku tidak mati. Susan ditangkap, sedangkan aku tertidur lama di rumah sakit.

Saat aku bangun, dokter segera tahu kalau aku sudah hilang ingatan. Dia tidak tahu kapan aku akan ingat kembali kejadian-kejadian sebelum aku jatuh. Dokter memberitahu orangtuaku kalau hilangnya ingatanku mungkin bukan karena benturan atau luka fisik, tapi psikis. Mengetahui hal itu, mama dan papa memutuskan untuk mengubur dalam-dalam semua tentang Fanny.

“Lisa, ini mama. Mama sedih kamu tidak ingat mama. Ayo kita pulang, nak”
Saat itu aku tidak pulang ke rumahku, rumah tempat aku bertemu dengan Susan. Tapi aku pindah ke Jakarta. Mama dan papa saat itu mengarang cerita kalau papa dipindahtugaskan ke Jakarta.
“Hmm.. Bagaimana dengan teman-temanku? Aku belum bertemu dengan mereka. Mereka tidak menjengukku?”
“Ah, kamu tidak akan ingat mereka, sayang. Itu akan menyakiti hati mereka. Lagipula kita tidak sempat berlama-lama lagi di sini”

Saat itu aku yang tidak teringat apa-apa hanya merasa aneh. Namun menerimanya sebagai hal yang wajar. Toh aku sedang sakit, pikirku.

Otto berhenti bercerita.
“Mereka menyayangimu, Fanny. Mereka tidak ingin kamu tersiksa dengan masa lalu. Sekalipun mereka salah mengambil langkah, cobalah mengerti mereka”
Aku terdiam dan diam. Mataku memandang jauh ke jendela tanpa berpikir apa-apa.

“Fanny. Kita jalan-jalan yuk?”

Monday, November 7, 2011

Life


Gw gak tau rasanya sendirian. Benar-benar sendirian. Gw gak tau rasanya hidup tanpa ada orang yang sayang sama gw. Tanpa tau tujuan hidup gw apaan.

Beberapa bulan yang lalu, nyokap gw bawa karyawan (suster) nya ke jakarta buat jadi pembantu. Di rumah baru gw di Jakarta gak ada pembantu. Kebetulan ada suster dari praktek dokter nyokap gw yang udah gak tahan hidup di Tegal (kota asal gw, tempat nyokap gw masih tinggal sekarang). Asalnya dari Purwokerto, tapi sekarang tinggal di Tegal sama keluarga suaminya. Waktu menikah, dia pikir suaminya punya rumah sendiri dan suaminya ustad. Ternyata suaminya tukang sapu mesjid yang males kerja dan masih nebeng di rumah nyokapnya. Alhasil, dia, mbak Nani jadi sapi perah di sana. Dimintain duit sana sini, padahal suaminya juga ogah-ogahan kerja. Banting tulang demi hidup dia sendiri dan hidup orang-orang di sekitarnya yang minta-minta ke dia. “Aku gak akan minta-minta seperti mereka. Aku gak mau dibantu. Aku cukup terima apa yang jadi hak ku saja,” katanya.

Mbak Nani punya seorang anak, 5 tahun. Mbak Nani pengen bgt skolahin anaknya tinggi-tinggi supaya gak seperti dia. Itulah tujuan hidup dan impian mbak Nani satu-satunya. Tapi dengan kondisi “diperas” dan tidak dihargai, dia akan sangat sulit menyekolahkan anaknya. Akhirnya dia bekerja di Jakarta, tinggal bersama saya, kedua kakak saya dan kakak ipar saya. Kami sangat senang dengan kehadirannya. Kami sangat menyukai perangainya yang sangat polos, lucu, dan apa adanya. Sekalipun banyak sekali pekerjaan yang berantakan, kami mengajarinya pelan-pelan dan kami sangat comfort dengannya. Banyak kejadian lucu dan menyenangkan di rumah. Kami juga senang saat dia sekarang menjadi lebih baik dalam bekerja. Dari yang awalnya gak bisa masak, sampai bisa masak banyak resep. Gw sempat sangat kagum dan heran, bagaimana mungkin dalam tekanan yang begitu keras dia masih bisa tersenyum polos dan jujur?

“Di sini aku senang, hed. Jauh dari komunitas. Jauh dari tekanan. Gajiku juga gak aku ambil, biar ibu (nyokap gw) yang simpan aja dan sekolahin Hilal (anak mba Nani).”

“Aku gak mau, hed Hilal jadi seperti aku. Goblok. Sekolah cuma lulus SMP. Dulu waktu aku SD bagus-bagus nilainya. Tapi waktu SMP jeblok, stres liat ibuku punya anak terus, malu. Aku juga ke sekolah sepatunya bolong, rasanya mau mati aja,” katanya waktu kami berbincang bersama.

Tapi itu semua tidak berlangsung lama.

Mbak Nani jadi aneh dan mengganggu. Dia sering bgt kirim sms ke gw ‘n ngko gw. Segala macam kemarahan, kepaitan, dan kesedihan dia luapkan di sana. Dia jadi sering menangis sendiri, emosinya labil, menyalahkan kami yang tidak berbuat apa-apa dengannya. Makin lama dia makin sulit diajak bicara. Setiap hal kecil yang kami kritik dari dia, sangat sepele, dia langsung menangis. Berkali-kali dia minta berhenti kerja, bahkan sempat membawa semua barang-barangnya untuk pergi dari rumah. Tapi berkali-kali juga dia bilang kalo dia sangat senang di sini. Waktu nyokap gw udah ga tahan lagi sm tingkahnya yang manja, aneh, dan mengganggu, nyokap gw nantangin dia untuk benar-benar keluar. Nyokap gw kirim 2 pembantu lagi dan suruh dia keluar. Tapi dia langsung berubah drastis, yang tadinya menangis minta berhenti kerja sekarang merengek2 minta tetap bekerja di sini. Puncaknya, dia mencoba bunuh diri dari lantai 4.

Suasana rumah yang awalnya sangat menyenangkan, menjadi sangat melelahkan. Setiap pulang sekolah saya tidak sabar bertemu dengannya, berbicara, melihat keceriaan dan keluguannya. Tapi lama-lama saya rasanya enggan untuk pulang ke rumah. Enggan untuk mendengar masalah lainnya.

Mama saya yang sangat sibuk di Tegal menyempatkan diri ke jakarta hanya untuk membawanya pulang. Sulit sekali membujuknya pulang. Kami semua beranggapan sama, dia sudah stres, kalau dibiarkan bisa benar-benar gila. kami menganjurkannya untuk pulang ke desanya jika dia malu pulang ke keluarga suaminya di Tegal.  “dari saya bayi orang tua saya kasih saya ke nenek. Sekarang nenek sudah meninggal. Saya gak punya siapa-siapa yang sayang saya”. Kami terhenyak. Kami benar-benar kasihan padanya. Saya pun teringat awal keanehan mba nani. Waktu itu Hilal meneleponnya dan memintanya motor, rumah, harta. Anak umur 5 tahun! Saya pikir itu yang menyebabkan mba nani hilang arah. Satu-satunya tujuan hidupnya sekarang ‘hancur’, bahkan turut menekan dia.  Saya sangat khawatir dengannya, bagaimana nanti kalau dia pulang ke tegal atau ke desanya? Siapa yang akan mengurusnya? Siapa temannya? Dsb.

Tapi saya bersyukur, sebelum dia pulang ada satu momen indah dan mengharukan. Saat itu saya, mama, kakak saya dan istrinya duduk bersama-sama dengan mba nani. Kakak saya bertanya “Mba nani saat ini stres? Berbeban berat? Mba mau kedamaian?”

“ya”

“salah satu penyebab mba seperti ini krn mba belum kenal Tuhan. Hanya dengan mengenal Tuhan, mba bisa dapet kedamaian, bisa mengampuni diri sendiri, bisa mengampuni orang lain. Coba baca ayat ini”

“Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan..” Pecahlah tangisannya

“Aku yang bacain ya kalo mba gak bisa baca, Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Jiwamu akan mendapat ketenangan. Mba tau siapa yang ngomong?”

“siapa?”

“Tuhan Yesus, Nabi Isa. Ini ada sesuatu buat Mbak Nani, kamu baca baik-baik, renungkan, berdoa dalam nama Tuhan Yesus. Ini ada juga Alkitabku, mba baca dari yang tandanya merah (PB) baru baca yang hitam, trus baca lagi yang merah. Sekarang kita berdoa ya”

Saat itu dalam hati gw terus berdoa supaya Tuhan boleh menyatakan diri padanya. Saat itu gw mohon supaya Tuhan nyatakan bahwa dia tidak sendiri, ada yang sayang padanya, ada yang sudah rela mati untuk dosa-dosanya. Aku mengucap syukur buat berkat yang sudah diterimanya, juga aku. Aku harus terus liat ada pengharapan di depan sana. Aku kembali dikuatkan bahwa ada Tuhan yang memegang aku. Ada Tuhan yang memberikan kelegaan padaku.