Monday, August 29, 2011

Forgotten #11


Hari sudah sore, hanya anggota panitia perpisahan kelas 3 yang masih ada di sekolah. Ya, sebentar lagi Otto lulus SMA. Waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin Otto kehilangan Fanny. Ternyata sudah 3 tahun berlalu.

“Hei, rapat sudah selesai kalian gak pulang?” tanya Otto pada teman-temannya yang masih asyik melihat foto-foto lama.
“Bentar lagi, to.. Sini-sini! Kamu pasti geli sendiri liat kita waktu kecil dulu!”
Otto tersenyum ramah sambil menghampiri temannya.

“Sinta! Kamu culun banget waktu kelas 4! Hahaha!”
“Ih! Aku cariin foto kamu ya! Tuh! Tukang ngompol kelas 3c, inget gak?”
Tawa riang sahut-menyahut di ruang osis kecil itu. Mereka terus membalik-balik halaman album foto sambil mengkomentari setiap orang. Otto melihat satu foto temannya. Sella. Senyumnya redup. Sella teman sekelas Otto yang sangat cantik di SMP. Sebenarnya sejak SD mereka sudah kenal. Semua orang menyukainya. Dia sangat baik dan pintar. Hobinya melukis. Pernah waktu itu Sella dekat sekali dengan Otto. Sella memberikan hasil lukisannya sendiri kepadanya sambil mengutarakan perasaan sukanya. Otto terkejut, tapi tak bisa membalas apa-apa. Walaupun begitu, Otto tidak menjauhi Sella dan mereka tetap berteman baik. Sayangnya Sella meninggal.

Sekejap bulu kuduk Otto berdiri. Siapa yang menyangka gadis kecil itu hanya 14 tahun menikmati hidup. Kejadian itu bukan sekadar memori sedih bagi Otto, tapi momok yang tidak akan terlupakan bagi seluruh desa waktu itu.

Sella ditemukan tergeletak bersimbah darah di lapangan sekolah. Saat itu semua anak sedang ada di aula sekolah mendengarkan seminar tentang narkoba. Mendengar teriakannya, guru dan anak-anak langsung berhamburan keluar aula dan melihat Sella sudah tidak lagi bergerak. Ia jatuh entah dari lantai berapa. Dan di lantai 3, Fanny melihat ke bawah dengan tatapan kosong dan mengerikan.

Tidak ada saksi, juga tidak ada satu kata pun dari mulut Fanny. Polisi sempat menangkap Fanny untuk diinterograsi, namun akhirnya Fanny dilepaskan. Semua orang desa berpikir Fanny pembunuhnya. Tidak lama setelah itu..

“Kreeek!”
Mereka berdiri dari kursi mereka, Otto terbangun dari lamunannya.
“Ahhh.. saatnya pulaang.. Yuk, to pulang bareng”
“oh, iya iya..” kata Otto sambil tersenyum canggung

Sambil beranjak keluar Otto melihat album foto yang sudah ada di rak lemari kembali.

“ANGKATAN 2000/2001-2008/2009, SD-SMP GORO”

Tidak ada foto Fanny di sana. Gadis berambut pendek, kulit sawo matang, dan berbadan gemuk itu. Yang ada hanya bekas sobekan di halaman 32 dan 124, tempat foto Fanny seharusnya ada. Tidak ada yang senang mengenang hal yang buruk, bukan? Otto menghela nafas dan pergi.

No comments: