Tuesday, June 28, 2011

Forgotten #5 (Lisa)

"Lisa.."
Aku tidak menjawab. Hanya dongakan lemah yang didapat papa. itu kata pertama setelah mungkin 10 menit kami ada di meja makan. Kami semua berdiam diri, hanya ada suara garpu dan sendok beradu. Aku tahu akulah pembawa suasana tidak nyaman ini.

"Kamu kenapa? Sakit?"
Aku menggelengkan kepala sambil mnerawang melihat makananku. aku merasakan mama yang melihat papa dengan khawatir.
"Aku berangkat"
Kucium papa mama seperti biasa dan berangkat ke sekolah.
"Hati-hati di jalan, ya," kata mama sambil menatap punggungku sampai aku menghilang di ujung pagar rumah.

Hari ini berlalu begitu saja, begitu cepat, tanpa sesuatu yang berarti. Hari ini panas terik seperti biasa, namun hatiku mendung luar biasa. Aku tak mengerti mengapa mimpi itu sangat memengaruhiku. Aku tak mampu melupakan setial detil adegan yang terekam di mimpi itu. Biasanya saat aku bangun pun, sesaat saja semua yang kuimpikan menghilang. Mimpi seburuk apapun tidak mampu menawanku. Tapi kali ini berbeda.

Aku menuju ke luar pagar sekolah. Tak terasa sudah pulang sekolah. Hari ini sudah 6 orang yang bertanya ada apa denganku. Aku tetap tersenyum, namun "senyum itu sangat mengiris hati," kata mereka.

Taman kota. Hatiku berdegup kencang saat aku selangkah demi selangkah menuju ke sana. Kakiku bergetar, tubuhku kaku, langkahku kupercepat. Mataku melirik ke sana, bangku tempat tante Susan duduk kemarin. Tidak ada! Tidak ada dia.

Aku terus menahan nafasku sampai akhirnya aku dapat bernafas lega di balik pintu rumahku.
"Lisa.."
"AHH!"
Aku berteriak kaget merasakan tangan di pundakku. Itu mama. Kuhela nafas panjang sembari mengusap-usap dadaku.
"Kamu ini kenapa, sih? Dari tadi pagi sikapmu aneh"
"Nggak papa, ma"
"Mama nggak suka liat kamu seperti itu. Apalgi kalau sudah terima ini tapi masih suram begitu"
Mama menyodorkanku selembar kertas kecil: PAMERAN SENI RUPA NUSANTARA

"Hah?? Ma, ini.."
"Yap! Haha! Mama tadi ketemu sama Pak Basuki, penyelenggara pameran ini. Mama ajak dia makan siang di rumah lalu mama membawanya melihat lukisan-lukisan di kamarmu. Dia tidak menyangka itu semua hasil karya gadis kelas 2 SMA, anak mama ini," kata mama sambil mencubit pipiku
"Pak Basuki memang pernah melihat lukisanmu di pameran, tapi hanya sedikit. Sekarang dia sangat puas melihat lukisan-lukisan di kamarmu dan kemajuan melukismu. Dia sangat tertarik dengan bakatmu, Lisa"
"Lalu tiket ini?"
"Iya, dia memberikannya padamu. Kalau kamu datang, dia bersedia jadi tour guide-mu katanya. Haha"
"Mamaaa.. I love you sooo muchhh!"
"Haha.. Nah, gitu dong! Anak mama kalau tersenyum begitu kan tambah manis"

Ah, pameran seni rupa nusantara! Tidak pernah terbayang aku bisa ke sana, itu kan hanya untuk para ahli dan seniman terkenal! Aku senaang sekali! Pasti di sana ada banyak lukisan nomor satu se-Indonesia. Karya para seniman hebat. Ah, mama tahu saja cara menghiburku. Saat ini pasti mataku berbinar-binar dan senyum lebar mengembang di wajahku. Tak sabar unutk datang ke sana Sabtu besok!


Pak Basuki adalah ketua dari Lembaga Seni Rupa Nusantara. Lembaga ini adalah lembaga yang memiliki visi yang mulia: mempertahankan kebudayaan Indonesia, mendidik Indonesia untuk bangga terhadap kebudayaan yang ada, dan membawa Indonesia untuk lebih di hargai di kancah Internasional. Namun bukan berarti mereka anti dengan budaya tinggi negara-negara lainnya seperti Eropa dan Cina. Mereka juga mempelajari dan mengapresiasikannya. Aku ingin sekali menjadi salah satu dari mereka, bersama-sama bekerja untuk Indonesia. Apa yang menjadi impianku tak berbeda jauh dengan apa yang menjadi visi mereka. Hanya saja aku melakukannya bukan hanya karena aku mencintai Indonesia. Tapi inti dari panggilanku ini adalah karena aku tahu Tuhan mengutus setiap umatNya untuk bermandat budaya. Karena aku tahu negara inilah yang Tuhan berikan untuk aku pelihara dan kembangkan.

Aku berkeliling melihat lukisan-lukisan yang tergantung di dinding. Masing-masing lukisan mempunyai ceritanya masing-masing. Ada yang sangat sederhana, ada pula yang sangat rumit dan sulit dimengerti. Ada yang menggambarkan falsafah kekeluargaan. Ada juga gambaran wanita Jawa yang dianggap lebih rendah dari pria, "kanca wingking". Wayang, legenda, mitos juga mewarnai gedung pameran ini.

Aku berhenti dan menatap lama pada satu lukisan. Seorang gadis remaja yang sangat cantik, mungkin sekitar 15 tahun. Seorang ronggeng. Ronggeng secantik ini pasti menjadi ronggeng sukses dan kaya kelak. Tapi yang membuatku bingung, ia menatap cermin dengan sangat sedih, takut, dan seperti menahan tangis yang tak terbendung. Nuansa gelap dan sendu ada di keseluruhan lukisan itu. Dari pakaian dan riasannya, ia sudah siap naik ke panggung menyambut pujaan para penonton. Apa yang dipikirkannya? Tidak senangkah dia melihat kecantikannya itu?

"Tak mengerti yang ini?"
"Oh,Pak Basuki! Wah, senang sekali bertemu Anda di sini. Terimakasih, Pak tiketnya. Saya senang sekali!"
"Haha. Sama-sama. Saya senang kalau ada yang tertarik dengan semua seni rupa di sini. Terutama remaja seusia kamu, generasi penerus bangsa"
"Hmm.. Pak, ini.."
"Ruri Anggira. Banyak yang suka karyanya yang satu ini."
"Ronggeng itu cantik sekali. Dia sangat hebat bisa menggambar sosok remaja muda yang cantik jelita. Saya pun tidak yakin pernah melihat gadis secantik itu di dunia nyata. Haha"
"Bukan hanya itu yang membuatnya dipuji-puji"
"Lalu apa, Pak?"
"Maknanya"
"Justru itu yang tidak kumengerti, Pak"
"Hahaha, sudah kuduga.Sejauh ini apa yang kaumengerti?"
"Dia anak cantik yang baru saja akan pentas, entah pentas keberapa, tapi dia masih pemula karena mukanya yang masih sangat muda, postur tubuh juga. Sekitar 15 tahun."
"Pasti pentasnya yang paling pertama, perdana."
Aku mulai memandang Pak Basuki.
"Lukisan ini menggambarkan pergolakan batin gadis cilik di ambang pertaruhan harga dirinya."
aku memerhatikan dengan saksama
"Di lingkungan tempat tinggalnya, yaitu kehidupan para ronggeng, wajahnya yang sangat cantik merupakan idaman setiap ronggeng. Gadis secantik itu tidak akan ditelantarkan dan tidak akan tak laku tampil di panggung.Tapi dia tahu wajahnya yang cantik adalah malapetaka baginya"
"Kenapa?"
"Karena akan semakin banyak laki-laki yang menontonnya, naik ke panggung, mencolek wajah dan tubuhnya, atau bahkan mengajaknya melakukan hal yang tidak-tidak. Tanpa mendapat perlakuan seperti itu pun, sekali saja dia tampil di panggung, nama baiknya hanya tinggal kenangan. Dia akan sulit sekali mendapatkan pria yang benar-benar menghargainya. Seorang ronggeng, biarpun bersih, tapi hidup dalam gunjingan banyak orang"
"Ah, tak terpikir olehku"
Pak Basuki tersenyum dan mengajakku kembali melihat-lihat isi pameran. Terkadang dia berhenti dan menjelaskan sebuah lukisan padaku. Aku sangat senang dan mendapat banyak pengetahuan.

Aku pulang ke rumah. Rasa menggebu-gebu masih ada dalam dadaku. Hei, apa itu? Kulihat sebuah bingkisan di atas tempat tidurku. Kubuka perlahan-lahan. Wah, ini kan peralatan melukis yang mahal. Bermacam-macam kuas dalam berbagai bentuk dan ukuran, lengkap dengan tas dan peralatan lainnya. Siapa yang menaruhnya di sini? Mama? Ternyata ada kartu di dalamnya, aku membuka dan membacanya:

"Akhirnya aku tahu juga dimana rumahmu. Ternyata kamu suka melukis ya sekarang? Kamu berubah banyak! Kuharap kamu tidak sadar kalau aku mengikutimu dari taman. Jadi hadiah kecilku ini sukses membuatmu terkejut! Haha.. Tidak sabar aku bertemu lagi denganmu, Fanny. Dari orang yang selalu menyayangimu, Susan"

2 comments:

Alvin Steviro said...

Deskripsinya selalu cantik.
emosi gw kebawa waktu baca tulisan ini..
semakin ke sini gw semakin seneng sama tulisan u! :)
keep writing Hed! smangat ;)

Heidy Angelica said...

thanks vin... masih byk kekurangan kok.. hehehe.. :D
ditunggguuuuuu yaaa punya luuu wkwkwk